Senin, 13 Agustus 2012

Bermuatan Konflik Agama, 'Sembilan Wali' Diminta Stop Tayang dari televisi

Bermuatan Konflik Agama, 'Sembilan Wali' Diminta Stop Tayang Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali meminta sinetron Sembilan Wali yang tayang di Indosiar setiap pukul 20.00 WITA dihentikan penayangannya.
"Teguran pertama tidak ditanggapi. Kami mengeluarkan teguran kedua sekaligus minta tayangan Sembilan Wali dihentikan," kata Komang Suarsana, Ketua KPID Bali di Denpasar, Rabu (1/07).
KPID Bali menilai, sinetron tersebut termasuk kategori fiksi sejarah atau legenda yang di dalamnya mengandung pro-kontra dan konflik antara Hindu dan Islam.
"Sebagai fiksi sejarah, seharusnya ada peran pakar sejarah dari kedua paham yang dipertentangkan yang menjadi konsultan atau advisor, agar terjadi keseimbangan dan otorisasi kebenaran informasi dalam setiap alur cerita yang disiarkan, yang ditampilkan dalam prolog cerita maupun ending title (akhir judulnya)," ujarnya.
Berdasarkan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) pasal 6 dan pasal 7, sinetron Sembilan Wali dinilai melakukan sejumlah pelanggaran.
Pertama, kata dia, sinetron Sembilan Wali bertendensi melanggar pemanfaatan program untuk kepentingan publik karena hanya menguntungkan kelompok tertentu. Sinetron tersebut juga tidak mencerminkan penghormatan terhadap SARA (suku, agama, ras dan antar golongan).
"Yang jelas-jelas, sinetron Sembilan Wali terindikasi mengandung pelecehan, dalam hal ini terhadap umat Hindu," kata Suarsana yang mengaku menerima pengaduan dari sejumlah LSM, termasuk dari Ketua PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) Provinsi Bali terkait tayangan sinetron tersebut.
P3SPS menegaskan, program siaran materi agama dilarang mengandung serangan, penghinaan, pelecehan terhadap pandangan dan keyakinan agama tertentu. Termasuk juga dilarang menyajikan perbandingan antaragama.
Suarsana merinci, surat teguran pertama sudah dilayangkan kepada stasiun televisi itu dan KPI Pusat, namun tidak mendapat tindak lanjut.
"Kami keluarkan teguran keras kedua tanggal 31 Juli 2012 dengan harapan mendapatkan respon dari pihak stasiun televisi maupun KPI Pusat," katanya.
Menurut Suarsana, sinetron Sembilan Wali dalam alur ceritanya seakan-akan memberikan gambaran sejarah yang nyata dan benar-benar terjadi tentang masuknya pengaruh Islam ke Nusantara, khususnya ke Kerajaan Majapahit.
Kisahnya dibumbui cerita-cerita horor, kedigjayaan yang seakan-akan memberi gambaran kehebatan para Wali yang berlatarkan paham Islam untuk menundukkan masyarakat dan Kerajaan Majapahit sebagai penganut Hindu.
"Kami tidak ingin sinetron itu justru menimbulkan konflik di masyarakat yang sudah hidup rukun penuh toleransi saat ini. Oleh karena itu kami tegas minta sinetron ini dihentikan," ujar Suarsana. (antara/dar)

sumber. Kapanlagi.com

lirik slank - tepi campuhan



Kulepas mata memandang 
Sawah hijau membentang 
Dua ekor anjing berkejar-kejaran 
Menyusuri pematang... tepi Campuhan

Kulepas otak melayang 
Ikuti semua kenyataan 
Dua burung putih turun ke ladang 
Mengganggu mimpi-mimpiku

Tepi Campuhan aku sendiri 
Menahan hening redup senja ini 
Tepi Campuhan aku menyepi 
Menahan dingin kabut senja ini
Di sini aku sendiri 
Di siniku saat ini nikmati sepi

Hujan turun tak juga berhenti 
Halangi sunset yang kunanti 
Sepasang capung menginjakkan kaki di kali 
Lalu terbang dan hinggap di bunga

Sembunyi diriku dalam pelukan alam 
Hindari semua kenyataan 
Menggigil tubuhku sadari alam 
Di sini aku kecil dan tak berarti

Minggu, 12 Agustus 2012

Wisata di Jakarta ala gua

monas   tempat wisata di jakarta itu banyak banyak dan banyak banget asal lu tau jah dari wisata orang susah sampe wisata orang kaya sebenernya banyak banget tergantung elu suka nya yang mana di deket rumah gua ada yang nama nya Taman mini indonesia indah, Taman bunga wiladatika, ada jambore dan gatau dah apa lagi. yang agak jauh sedikit ada Monumen nasional (Monas) ada kota tua, Kebun binatang ragunan, ada apa lagi yak gua lupa. Apa lagi yang nama nya Museum, banyakkkkkk banget gua jamin seru lu kalo kemuseum-museum yang ada di jakarta. pokok nya seru. Kalo mao yang agak keluar kota dikit ada kebon raya bogor, ada puncak bogor. kalo itu sih yang sering gua kunjungin. tapi cerita nya yang ini dulu aja deh
Sebener nya udah sering banget yang nama nya jalan-jalan ke Monas. tapi tetep aja seru tiap kali gua ke sana tau mungkin karna kebersamaan yang gua rasain, dan yang pasti wisata nya murah meriah buat anak pingiran jakarta kaya gua.
   yang pasti tiap gua jalan gua selalu naek kereta entah kenapa gak tau kenapa gua kayak nya suka banget sama yang nama nya kereta cuma 2 ribu rupaih gua udah bisa keliling jakarta. 
   tapi ya begitu naik nya kereta ekonomi kayak yang elu tau aja. kereta ekonomi menurt gua emang gak layak buat manusia menurut gua. Tapi bandingin dari segi harga aja sama kereta Comuter line yang harga tiket nya sekarang 9 ribu, kalo buat gau rasa nya berat banget.mana tetep desek desekan juga lagi.
  Sebenrnya gua kesini iseng-iseng aja gua abis ke potlot beli baju, terus bingung mau jalan kemana. Kan deket potlot ada setasiun tu, kalo gua bilang si setasiun kali bata. tapi kayak nya nama setasiun nya Duren Tiga gua rasa, haha.. sorry lupa.
pas ampe stasiun udah beli tiket temen gua hampir aja ketinggalan kereta gara-gara dia beli minum dulu, untung dia msih bisa lari.
  Cuma gua kadang suka gedek sama anak ini kalo gua jak jalan-jalan dikit-dikit ngajak pulang mulu, nama nya dia Patut.

  Terus yang gua senegin kalo naek kereta itu anti macet, maklumin aja jalanan jakarta itu macet banget, buat orang luar jakarta yang belum terbiasa mungkin lu akan sedikit stress. gak di jalan protokol gak di jalan raya pasti ada aja yang nama nya macet. pas gua SMP aja jalan raya di dalem kampung aja macet.

  Sekarang gua udah SMA kalo sekarang gua lewat jalan raya gede. biar jalan nya gede yang nama nya mobil ama motor jalan nya merayap saking penuh nya itu dari subuh loh, ampe sekitar jam tujuh pagi. puyeng dah yang nama nya kemana di jakarta. maka nya itu i love kereta.











Minggu, 08 Juli 2012

SMPN 179 Jakarta Timur



SMPN 179 jakarta timur




Alamat :
jl.Kalisari Kec. Pasar Rebo Jakarta Timur 13790
Telp. (021) 8711073 Fax. (021) 87707316
E-mail : smpn179jkt@gmail.com


Kepala sekolah
-Ismatohir .spd

Guru agama
-Sri Rahayu
-Dewi S

-Ali Rosidi
-Aminah
-Magda Lisbet Siregar

Guru PKN
-Fatimah Kustini
-Angkat Girianto
-Rusmiati

Guru B.Indonesia

-Kasmirah (kastet)
-Djuariatin (wali kelas 9 gua ^o^)
-Supkarwati

-Heni S
-Milzaida (bu emil/Yunisahara :D )
-Sri Rahayu

-Sumarhaeni
-Nuryeni

Guru B.iggris
-Sarweningsih
-Esli Napitupulu
-Masliana (wali kelas 7 gua ^o^)

-Salbilah

Guru Matematika
-Maman
-Diana Purba
-Rika
-Mulyono
-Nurngainiah
-Nunung S


Guru IPA
-Sri Poncowati
-Eli Juhaeli
-Emidarti
-Suprojo
-Suwidyastuti
-Nurlaela


Guru IPS
-Sri Utami 
-Ngesti Indrastuti
-Dwi Farida

-Berta os
-Zurnayeta
-Romauli
-Ika Rostika


Guru TIK
-Ismayadi

-Ahmad husaeni
-Lisbet Gultom

Guru SBK
-Dedi (pakde)

-Eni Saftihat
-Plah

Guru Tabus

-Suwarni
-Karlinde


Guru PLKJ
-Magda Lisbet
-Besli Simanjuntak (wali kelas 8 gua ^o^)


Guru OR
-Komarudin (pak Wawan)
-
Yuli S

-Bagyo

Guru BP
-Siti Aisah
-Fatimah


Satpam KILLER
-Irvan
-Yudi 

Kelas VIII-7 tahun 2010-2011

Perpisahan SMP 179 Angkatan 2012


Kelas IX-6 SMPN 179 Jakarta
Wali kelas Ibu.Djuariatin
Foto album kenangan IX-6 SMPN 179 Jakarta
Foto gua di lab bahasa smpn 179 Jakarta

Banyak sekali kenangan di sekolah ini.. SMPN 179 Jakarta..

sejarah karya lukisan Raden Saleh


Raden Saleh


Raden Saleh Sjarif Boestaman (Semarang1807 - Buitenzorg (sekarang Bogor), 23 April 1880) adalah salah seorang pelukis terkenal dari Indonesia. 


Berkas:Raden saleh.jpgIbunya bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen, tinggal di daerah Terboyo, dekat Semarang. Sejak usia 10 tahun, ia diserahkan pamannya, Bupati Semarang, kepada orang-orang Belanda atasannya di Batavia. Kegemaran menggambar mulai menonjol sewaktu bersekolah di sekolah rakyat (Volks-School).
Keramahannya bergaul memudahkannya masuk ke lingkungan orang Belanda dan lembaga-lembaga elite Hindia-Belanda. Seorang kenalannya, Prof.Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau sekitarnya, menilainya pantas mendapat ikatan dinas di departemennya. Kebetulan di instansi itu ada pelukis keturunan Belgia, A.A.J. Payen yang didatangkan dari Belanda untuk membuat lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Payen tertarik pada bakat Raden Saleh dan berinisiatif memberikan bimbingan.
Payen memang tidak menonjol di kalangan ahli seni lukis di Belanda, namun mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda, ini cukup membantu Raden Saleh mendalami seni lukis Barat dan belajar teknik pembuatannya, misalnya melukis dengan cat minyak. Payen juga mengajak pemuda Saleh dalam perjalanan dinas keliling Jawa mencari model pemandangan untuk lukisan. Ia pun menugaskan Raden Saleh menggambar tipe-tipe orangIndonesia di daerah yang disinggahi.
Terkesan dengan bakat luar biasa anak didiknya, Payen mengusulkan agar Raden Saleh bisa belajar ke Belanda. Usul ini didukung oleh Gubernur JenderalG.A.G.Ph. van der Capellen yang memerintah waktu itu (1819-1826), setelah ia melihat karya Raden Saleh.
Tahun 1829, nyaris bersamaan dengan patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal Hendrik Merkus de Kock, Capellen membiayai Saleh belajar ke Belanda. Namun, keberangkatannya itu menyandang misi lain. Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieentertulis, selama perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa, Bahasa Jawa, dan Bahasa Melayu. Ini menunjukkan kecakapan lain Raden Saleh.

Belajar ke Eropa


Berkas:Raden Saleh.jpg
Semasa belajar di Belanda keterampilannya berkembang pesat. Wajar ia dianggap saingan berat sesama pelukis muda Belanda yang sedang belajar. Para pelukis muda itu mulai melukis bunga. Lukisan bunga yang sangat mirip aslinya itu pun diperlihatkan ke Raden Saleh. Terbukti, beberapa kumbang serta kupu-kupu terkecoh untuk hinggap di atasnya. Seketika keluar berbagai kalimat ejekan dan cemooh. Merasa panas dan terhina, diam-diam Raden saleh menyingkir.
Ketakmunculannya selama berhari-hari membuat teman-temannya cemas. Muncul praduga, pelukis Indonesia itu berbuat nekad karena putus asa. Segera mereka ke rumahnya dan pintu rumahnya terkunci dari dalam. Pintu pun dibuka paksa dengan didobrak. Tiba-tiba mereka saling jerit. "Mayat Raden Saleh" terkapar di lantai berlumuran darah. Dalam suasana panik Raden Saleh muncul dari balik pintu lain. "Lukisan kalian hanya mengelabui kumbang dan kupu-kupu, tetapi gambar saya bisa menipu manusia", ujarnya tersenyum. Para pelukis muda Belanda itu pun kemudian pergi.
Itulah salah satu pengalaman menarik Raden Saleh sebagai cermin kemampuannya. Dua tahun pertama ia pakai untuk memperdalam bahasa Belanda dan belajar teknik mencetak menggunakan batu. Sedangkan soal melukis, selama lima tahun pertama, ia belajar melukis potret dari Cornelis Kruseman dan tema pemandangan dari Andries Schelfhout karena karya mereka memenuhi selera dan mutu rasa seni orang Belanda saat itu. Krusseman adalah pelukis istana yang kerap menerima pesanan pemerintah Belanda dan keluarga kerajaan.
Raden Saleh makin mantap memilih seni lukis sebagai jalur hidup. Ia mulai dikenal, malah berkesempatan berpameran di Den Haag dan Amsterdam. Melihat lukisan Raden Saleh, masyarakat Belanda terperangah. Mereka tidak menyangka seorang pelukis muda dari Hindia dapat menguasai teknik dan menangkap watak seni lukis Barat.
Saat masa belajar di Belanda usai, Raden Saleh mengajukan permohonan agar boleh tinggal lebih lama untuk belajar "wis-, land-, meet- en werktuigkunde(ilmu pasti, ukur tanah, dan pesawat), selain melukis. Dalam perundingan antara Menteri Jajahan, Raja Willem I (1772-1843), dan pemerintah Hindia Belanda, ia boleh menangguhkan kepulangan ke Indonesia. Tapi beasiswa dari kas pemerintah Belanda dihentikan.
Saat pemerintahan Raja Willem II (1792-1849) ia mendapat dukungan serupa. Beberapa tahun kemudian ia dikirim ke luar negeri untuk menambah ilmu, misalnya Dresden, Jerman. Di sini ia tinggal selama lima tahun dengan status tamu kehormatan Kerajaan Jerman, dan diteruskan ke Weimar, Jerman (1843). Ia kembali ke Belanda tahun 1844. Selanjutnya ia menjadi pelukis istana kerajaan Belanda.
Wawasan seninya pun makin berkembang seiring kekaguman pada karya tokoh romantisme Ferdinand Victor Eugene Delacroix (1798-1863), pelukisPerancis legendaris. Ia pun terjun ke dunia pelukisan hewan yang dipertemukan dengan sifat agresif manusia. Mulailah pengembaraannya ke banyak tempat, untuk menghayati unsur-unsur dramatika yang ia cari.
Saat di Eropa, ia menjadi saksi mata revolusi Februari 1848 di Paris, yang mau tak mau memengaruhi dirinya. Dari Perancis ia bersama pelukis Prancis kenamaan, Horace Vernet, ke Aljazair untuk tinggal selama beberapa bulan pada tahun 1846. Di kawasan inilah lahir ilham untuk melukis kehidupan satwa di padang pasir. Pengamatannya itu membuahkan sejumlah lukisan perkelahian satwa buas dalam bentuk pigura-pigura besar. Negeri lain yang ia kunjungi:Austria dan Italia. Pengembaraan di Eropa berakhir tahun 1851 ketika ia pulang ke Hindia bersama istrinya, wanita Belanda yang kaya raya

Kembali ke Hindia


Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Het huis van de kunstschilder Raden Saleh door hemzelf gebouwd. TMnr 60005156.jpg
Tak banyak catatan sepulangnya di Hindia. Ia dipercaya menjadi konservator pada "Lembaga Kumpulan Koleksi Benda-benda Seni". Beberapa lukisan potret keluarga keraton dan pemandangan menunjukkan ia tetap berkarya. Yang lain, ia bercerai dengan istri terdahulu lalu menikahi gadis keluarga ningrat keturunan Keraton Solo.
 
Tahun
 1875 ia berangkat lagi ke Eropa bersama istrinya dan baru kembali ke Jawa tahun 1878. Selanjutnya, ia menetap di Bogor sampai wafatnya pada 23 April 1880 siang hari, konon karena diracuni pembantu yang dituduh mencuri lukisannya. Namun dokter membuktikan, ia meninggal karena trombosis atau pembekuan darah.Di Batavia ia tinggal di rumah di sekitar Cikini. Gedungnya dibangun sendiri menurut teknik sesuai dengan tugasnya sebagai seorang pelukis. Sebagai tanda cinta terhadap alam dan isinya, ia menyerahkan sebagian dari halamannya yang sangat luas pada pengurus kebun binatang. Kini kebun binatang itu menjadi Taman Ismail Marzuki. Sementara rumahnya menjadi Rumah Sakit Cikini, Jakarta.
Tertulis pada nisan makamnya di Bondongan, Bogor, "Raden Saleh Djoeroegambar dari Sri Padoeka Kandjeng Radja Wolanda". Kalimat di nisan itulah yang sering melahirkan banyak tafsir yang memancing perdebatan berkepanjangan tentang visi kebangsaan Raden Saleh.

Lukisan

Tokoh romantisme Delacroix dinilai memengaruhi karya-karya berikut Raden Saleh yang jelas menampilkan keyakinan romantismenya. Saat romantisme berkembang di Eropa di awal abad 19, Raden Saleh tinggal dan berkarya di Perancis (1844 - 1851).Berkas:Pieneman diponegoro.jpg

Ciri romantisme muncul dalam lukisan-lukisan Raden Saleh yang mengandung paradoks. Gambaran keagungan sekaligus kekejaman, cerminan harapan (religiusitas) sekaligus ketidakpastian takdir (dalam realitas). Ekspresi yang dirintis pelukis Perancis Gerricault (1791-1824) dan Delacroix ini diungkapkan dalam suasana dramatis yang mencekam, lukisan kecoklatan yang membuang warna abu-abu, dan ketegangan kritis antara hidup dan mati.
Lukisan-lukisannya yang dengan jelas menampilkan ekspresi ini adalah bukti Raden Saleh seorang romantisis. Konon, melalui karyanya ia menyindir nafsu manusia yang terus mengusik makhluk lain. Misalnya dengan berburu singa, rusa, banteng, dll. Raden Saleh terkesan tak hanya menyerap pendidikan Barat tetapi juga mencernanya untuk menyikapi realitas di hadapannya. Kesan kuat lainnya adalah Raden Saleh percaya pada idealisme kebebasan dan kemerdekaan, maka ia menentang penindasan.
Wajar bila muncul pendapat, meski menjadi pelukis kerajaan Belanda, ia tak sungkan mengkritik politik represif pemerintah Hindia Belanda. Ini diwujudkannya dalam lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro Meski serupa dengan karya Nicolaas Pieneman, ia memberi interpretasi yang berbeda. Lukisan Pieneman menekankan peristiwa menyerahnya Pangeran Diponegoro yang berdiri dengan wajah letih dan dua tangan terbentang. Hamparan senjata berupa sekumpulan tombak adalah tanda kalah perang. Di latar belakang Jenderal de Kock berdiri berkacak pinggang menunjuk kereta tahanan seolah memerintahkan penahanan Diponegoro.
Berbeda dengan versi Raden Saleh, di lukisan yang selesai dibuat tahun 1857 itu pengikutnya tak membawa senjata. Keris di pinggang, ciri khas Diponegoro, pun tak ada. Ini menunjukkan, peristiwa itu terjadi di bulanRamadhan. Maknanya, Pangeran dan pengikutnya datang dengan niat baik. Namun, perundingan gagal. Diponegoro ditangkap dengan mudah, karena Jenderal de Kock tahu musuhnya tak siap berperang di bulan Ramadhan. Di lukisan itu Pangeran Diponegoro tetap digambarkan berdiri dalam pose siaga yang tegang. Wajahnya yang bergaris keras tampak menahan marah, tangan kirinya yang mengepal menggenggam tasbih.

Pada saat penangkapan itu, beliau berada di Belanda. Setelah puluhan tahun kemudian kembali ke Indonesia dan mencari informasi mengenai peristiwa tersebut dari kerabat Pangeran Diponegoro. Dari usaha dan karya tersebut, tidaklah terlalu berlebihan bila beliau mendapat predikat sebagai Pahlawan Bangsa. Akhirnya, reputasi karya yang ditunjukkan oleh prestasi artistiknya, membuat Raden Saleh dikenang dengan rasa bangga.
Lukisan tentang peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Jendral De Cock pada tahun 1830 yang terjadi di rumah kediaman Residen Magelang. Dalam lukisan itu tampak Raden Saleh menggambarkan dirinya sendiri dengan sikap menghormat menyaksikan suasana tragis tersebut bersama-sama pengikut Pangeran Diponegoro yang lain. Jendral De Kock pun kelihatan sangat segan dan menghormat mengantarkan Pangeran Diponegoro menuju kereta yang akan membawa beliau ke tempat pembuangan.
Dari beberapa yang masih ada, salah satunya lukisan kepala seekor singa, kini tersimpan dengan baik di Istana Mangkunegaran, Solo. Lukisan ini dulu dibeli seharga 1.500 gulden. Berapa nilainya sekarang mungkin susah-susah gampang menghitungnya. Sekadar perbandingan, salah satu lukisannya yang berukuran besar, Berburu Rusa, tahun 1996 terjual di Balai Lelang Christie's Singapura seharga Rp 5,5 miliar.