laman

Google+ Badge

Sabtu, 21 Januari 2012

Sejarah Kebudayaan Islam Nusantara (tugas agama)


Sejarah Kebudayaan Islam Nusantara

Standar kompetensi :
-          Memahami sejarah tradisi islam nusantara
Kompetensi dasar :
-          Menceritakan seni budaya lokal sebagai bagian dari tradisi islam
-          Memberikan apresiasi terhadap tradisi dan upacara adat kesukuan nusantara

SMPN 179 JAKARTA
Agama Islam
Kelas 9-6
Kelompok 6 :

1. achmad sofian            (      )
2. rio aditiya                    (      )
3.                                            (      )
4.                                             (      )
5.                                             (      )
6.                                             (      )







Perkembangan ajaran Islam di Nusantara tidak hanya berada dalam lingkup ibadah saja.
Kehadiran Islam di Nusantara juga berpengaruh terhadap seni dan tradisi di Nusantara. Bahkan
perkembangan itu terus dilestarikan bahkan berkembang sampai dengan sekarang. Bagaimana
keberadaan seni budaya dan tradisi Islam tersebut? Untuk memahaminya, pelajarilah pembahasan
berikut ini !

A. SENI TRADISI ISLAM
Agama Islam merupakan agama yang menyukai keindahan atau seni. Dengan demikian seni tidaklah
dilarang oleh ajaran Islam. Namun dkesenian dalam Islam harus tetap memperhatikan keluhuran budi
dan moral. Oleh karena itu kesenian yang tidak mengindahkan norma-norma dan moral, maka tidak
diperbolehkan dalam Islam, seperti pornografi (gambar-gambar mesum) dan porno aksi (aksi atau
tindakan mesum).
Kebebasan berkesenian sama halnya dengan kebebasan kita dalam berkata, bersikap, dan bertingkah
laku. Kita bebas bertindak dan berkata apapun, namun tidak boleh melanggar aturan dan tata krama,
serta tidak boleh menyakiti hati orang lain.
Seni-seni Islami yang berkembang di antaranya adalah sebagai berikut :

1. Seni arsitektur
Kehadiran Islam telah mendorong lahirnya ciptaan-ciptaan baru dalam seni bangunan yang
disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Islam, misalnya bangunan masjid sebagai pusat
beribadah dan berkumpulnya umat Islam. Masjid di Aceh, Demak, Kudus dan di daerah lain di
Nusantara merupakan kekayaan seni arsitektur yang terus berkembang sampai sekarang.
Karya seni arsitektur pengaruh Islam juga tampak dalam bangunan keraton-keraton kerajaan
Islam. Disamping itu, seni arsitektur juga tampak dalam makam-makam para raja kerajaan Islam
di Nusantara.

2. Seni ukir
Seni ukir pengaruh Islam juga berkembang di Nusantara. Seni ukir yang dimaksud adalah berupa
seni ukir hias untuk memperindah masjid di bagian mimbar dan bangunan makam di bagian jirat,
nisan-nisannya, cungkupnya, dan tiang-tiang cungkupnya. Seni ukir hias itu antara lain berupa
daun-daunan, bunga-bungaan (teratai), bukit- bukit karang, pemandangan, dan ukiran kaligrafi.

3. Kaligrafi
Kaligrafi adalah seni menulis indah dengan merangkaikan huruf- huruf Arab atau ayat suci Al
Qur'an, hadis, asma Allah SWT, shalawat maupun kata-kata hikmah sesuai dengan bentuk yang
diinginkan. Kaligrafi sebagai motif hiasan dapat dijumpai di masjid-masjid kuno, seperti ukirukiran
yang terdapat pada masjid di Jepara. Tidak hanya masjid kuno, masjid-masjid sekarang
juga banyak dijumpai tulisan kaligrafi, baik di mimbar, dinding, maupun pada bagian luar masjid.

4. Seni tari
Di beberapa daerah di Indonesia terdapat bentuk-bentuk tarian yang berkaitan dengan bacaan
shalawat. Misalnya pada seni rebana diikuti dengan tari-tarian zipin, bacaan shalawat dengan
menggunakan lagu-lagu tertentu.



5. Seni musik/suara
Dalam kebudayaan Islam kita juga mengenal seni musik berupa rebana, hadrah, qasidah, nasyid
dan gambus yang melantunkan lagu-lagu dengan syair yang Islami. Kita mengenal
grup/kelompok nasyid dan qasidah seperti Bimbo, Nidaria, Nasyidaria, Raihan, Snada dan
sebagainya.
Di jaman sekarang lantunan lagu-lagu Islami tidak hanya diiring musik rebana saja, namun juga
diiringi band, seperti lagu-lagu yang dilantunkan oleh grub band Ungu, Gigi, dan grub band yang
lain.



6. Seni pertunjukan
Berupa pagelaran wayang kulit yang merupakan perpaduan kebudayaan Jawa dengan unsur
keislaman. Bagi orang jawa, wayang bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga tuntunan karena
sarat dengan pesan-pesan moral yang menjadi filsafat hidup orang Jawa.






7. Seni Sastra
Seni sastra yang berkembang pada zaman Islam umumnya berkembang di daerah sekitar Selat
Malaka (daerah Melayu) dan di Jawa. Ditinjau dari corak dan isinya,
kesusastraan zaman Islam
dibagi menjadi beberapa jenis, meskipun pembagian itu tidak dapat dilakukan secara tegas sebab
sering terjadi suatu naskah dapat dimasukkan ke dalam dua golongan sekaligus. Jenis-jenis karya
sastra zaman Islam di antaranya adalah sebagai berikut.

a. Hikayat
Hikayat adalah cerita atau dongeng yang biasanya penuh dengan keajaiban dan keanehan. Tidak
jarang hikayat berpangkaI pada tokoh-tokoh sejarah atau peristiwa yang benar- benar terjadi.

b. Babad
Babad adaIah dongeng yang sengaja diubah sebagai cerita sejarah. DaIarn babad, tokoh, tempat,
dan peristiwa harnpir semua ada daIam sejarah, tetapi penggarnbarannya diIakukan secara
berlebihan.
Contohnya Babad Tanah Jawi, Babad Cirebon, Babad Giyanti, dan Babad Pakepung.
Di daerah Melayu, babad dikenaI dengan nama sejarah sarasilah (siIsilah) atau tambo, yang juga
diberi juduI hikayat. Contohnya Tambo Minangkabau, Hikayat Raja-raja Pasai, dan Hikayat
Sarasilah Perak.








c. SuIuk
SuIuk adaIah kitab-kitab yang menguraikan soaI tasawuf. Kitab suluk sangat rnenarik karena
sifatnya pantheisme, yaitu menjeIaskan tentang bersatunya rnanusia dengan Tuhan
(mangunggaling kawulo lan Gusti). Pujangga-pujangga kerajaan dan para waIi banyak
menghasiIkan karya-karya sastra jenis suIuk ini, antara lain sebagai berikut.

Sunan Bonang mengernbangkan iImu suIuk daIam bentuk puisi yang dibukukan daIam
Kitab Bonang.

Hamzah Fansuri menghasilkan karya sastra dalam bentuk puisi yang bernafaskan keislaman,
misalnya Syair Perahu dan Syair dagang.

Syekh Yusuf, seorang ulama Makassar yang diangkat sebagai pujangga di kerajaan Banten,
berhasiI menulis beberapa buku tentang tasawuf.



B. KEBUDAYAAN TRADISI ISLAM
1. Halal Bihalal
Tradisi halal bihalal merupakan tradisi khas yang dilakukan bangsa Indonesia. Dikatakan
khas karena di Arab Saudi sebagai tempat awal mula Islam lahir tidak ditemukan tradisi halal
bihalal. Halal bihalal dilakukan pada bulan Syawal setelah umat Islam melaksanakan ibadah
puasa di bulan Ramadhan. Dengan demikian tradisi halal bihalal sangat erat kaitanya dengan
perayaan Idul Fitri.
Tujuan kegiatan halal bihalal adalah untuk menjalin tali silaturahmi dan saling
memaafkan. Halal bihalal dilakukan di berbagai lapisan masyarakat, mulai tingkat keluarga,
RT, RW, Desa, Kecamatan bahkan di istana kepresidenan pun dilakukan tradisi halal bihalal.
Tradisi Halal bihalal bersumber dari ajaran Islam, namun dalam perkembangannya halal
bihalal tidak hanya melibatkan umat Islam saja, namun sudah menjadi tradisi nasional yang
bernafaskan Islam.
Istilah Halal bihalal berasal dari bahasa Arab (halla atau halal) tetapi tradisi halal bi halal
itu sendiri bukan berasal dari Timur Tengah. Bahkan bisa jadi ketika arti kata ini ditanyakan
kepada orang Arab, mereka akan kebingungan dalam menjawabnya. Demikian juga dengan kata
silaturrahmi yang pemakaiannya telah salah kaprah. Yang benar adalah silaturrahim
Halal bi Halal sebagai sebuah tradisi khas Islam Indonesia lahir dari sebuah proses sejarah.
Tradisi ini digali dari kesadaran batin tokoh-tokoh umat Islam masa lalu untuk membangun
hubungan yang harmonis (silaturrahim) antar umat. Dengan acara halal bi halal, pemimpin
agama, tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintah akan berkumpul, saling berkomunikasi dan
saling bertukar informasi. Dari komunikasi yang terbangun diharapkan berbagai persoalan akan
dicarikan jalan keluarnya.
Pada acara halal bi halal semua orang mengucapkan mohon ma'af lahir dan batin. Hal ini
mengandung maksud bahwa ketika secara lahir telah mema'afkan yang ditandai dengan berjabat
tangan atau mengucapkan kata ma'af, maka batinnya juga harus dengan tulus memaafkan dan
tidak lagi tersisa rasa dendam dan sakit hati.




2. Kupatan (Bakdo Kupat)
Di Pulau Jawa bahkan sudah berkembang ke daerah-daerah lain terdapat tradisi kupatan.
Tradisi membuat kupat ini biasanya dilakukan seminggu setelah Idul Fitri. Biasanya masyarakat
berkumpul di suatu tempat seperti mushala dan masjid untuk mengadakan selamatan dengan
hidangan yang didominasi kupat (ketupat).
Kupat merupakan makanan yang terbuat dari beras dan dibungkus anyaman (longsong)
dari janur kuning (daun kelapa yang masih muda) tersebut banyak dijumpai di pasar-pasar
dalam bentuk matang atau hanya longsongnya dan bisa dimasak sendiri. Dan saat ini ketupat
menjadi maskot Hari Raya Idul Fitri.
Longsong yang terbuat dari daun kelapa tersebut diisi beras yang telah direndam air,
selanjutnya direbus berjam-jam hingga matang. Makanan pengganti nasi tersebut biasa
disajikan bersama sayur pelengkap, termasuk opor dan lainnya.
Ketupat memang sebagai makanan khas lebaran, walau dalam masyarakat Jawa baru
dijumpai seminggu setelah hari besar tersebut. Makanan itu ternyata bukan sekadar sajian pada
hari kemenangan, tetapi punya makna mendalam dalam tradisi Jawa.
Oleh para Wali, tradisi membuat kupat itu dijadikan sebagai sarana untuk syiar agama.
Dalam tradisi tersebut dihadirkan upacara kupatan yang perlengkapannya menggunakan ketan,
kolak, dan apem (serabi) yang diberi wadah daun pisang yang dibentuk sedemikian rupa
menjadi takir.
Ketan sebagai perlambang yang diambil dari kata khatam (selesai), takir dari kata zikir,
dan apem dari kata afwan atau ampunan.
Oleh sebagian besar masyarakat, kupat juga menjadi singkatan atau di-jarwo dhosok-kan
menjadi rangkaian kata yang sesuai dengan momennya yaitu Lebaran. Kupat adalah singkatan
dari ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan menjadi simbol untuk saling memaafkan.


3. Dugderan di Semarang
Tradisi dugderan merupakan tradisi khas yang dilakukan oleh masyarakat Semarang, Jawa
Tengah. Tradisi Dugderan dilakukan untuk menyambut datangnya bulan puasa.
Tradisi dugderan biasanya diawali dengan pemberangkatan peserta karnaval dari Balaikota
Semarang. Diperkirakan sekitar pukul 12.15 WIB peserta karnaval diberangkatkan dengan
penyerahan penghargaan bagi peserta lomba “Warak Ngendog” (semacam patung yang menjadi
maskot dugderan). Acara karnaval ini diikuti seluruh kecamatan. dan untuk memeriahkan acara
tersebut juga menampilkan Warag Dugder. Selanjutnya iring-iringan karnaval menuju masjid
Kauman Semarang.
Ritual dugderan akan dilaksanakan setelah shalat Asar yang diawali dengan musyawarah
untuk menentukan awal bulan Ramadan yang diikuti oleh para ulama. Hasil musyawarah itu
kemudian diumumkan kepada khalayak. Sebagai tanda dimulainya berpuasa dilakukan
pemukulan bedug. Hasil musyawarah ulama yang telah dibacakan itu kemudian diserahkan
kepada Kanjeng Gubernur Jawa Tengah. Setelah itu Kanjeng Bupati Semarang (Walikota
Semarang) dan Gubernur bersama-sama memukul bedug kemudian diakhiri dengan doa.
Ketika perayaan dugderan dilaksanakan, masayarakat Semarang dan sekitarnya berduyunduyun
menyaksikan karnaval ini. Dalam acara ini biasanya juga dipentaskan tarian Jipin yang
dibawakan oleh 100 penari dari Semarang dan Demak


4. Sekaten di Surakarta dan Yogyakarta
Tradisi Sekaten dilaksanakan setiap tahun di Karaton Surakarta Jawa Tengah dan Keraton
Yogyakarta. Tradisi ini dilaksanakan dan dilestarikan sebagai wujud Mikul Dhuwur Mendhem
Jero (kegiatan mengenang jasa-jasa) dari Karaton Surakarta maupun Yogyakarta terhadap
perjuangan Walisongo yang telah berhasil menyebarkan tuntunan Nabi Muhammad s.a.w. di
tanah Jawa. Kelahiran Nabi Muhammad saw. tersebut konon diperingati oleh para wali di
keraton Demak selama seminggu, dari tanggal 5- 15 Rabiul Awwal. Peringatan yang lazim
dinamai Maulud Nabi itu, oleh para wali disebut Sekaten, yang berasal dari kata Syahadatain
(dua kalimat Syahadat).
Jadi, Sekaten diadakan untuk melestarikan tradisi para wali dalam memperingati kelahiran
Nabi Muhammad saw. Sebagai tuntunan bagi umat manusia. Diharapkan masyarakat yang
datang ke Sekaten juga mempunyai motivasi untuk mendapatkan berkah dan meneladani Nabi
Muhammad saw.
Semangat perayaan Sekaten diharapkan dapat mendorong manusia meningkatkan rasa
tasamuh (toleran), bisa saling memaafkan dan berlapang dada, pandai bersyukur,
meningkatkan takwa, serta tidak takabur. Semangat itulah yang perlu diteladani dari Walisongo
dan Nabi Muhammad saw.
Dengan demikian, perayaan Sekaten pada hakikatnya diperuntukkan bagi mereka yang
menghendaki tuntunan; hal yang memang dikehendaki oleh Walisongo.
Dalam upacara Sekaten tersebut disuguhkan gamelan pusaka peninggalan dinasti
Majapahit yang telah dibawa ke Demak. Suguhan ini sebagai pertanda bahwa dalam berdakwah
para wali mengemasnya dengan menjalin kedekatan kepada msyarakat.
Tradisi menabuh gamelan dilestarikan di Karaton Surakarta, tepatnya di Bangsal
Pagongan, Mesjid Agung Karaton Surakarta. Sedangkan di Yogyakarta dilaksanakan di
kompleks Masjid Gede Kauman dengan menyuguhkan dua gamelan pusaka keraton,
yaitu Kiai Nagawilaga dan Kiai Guntur Madu.
Gamelan yang disuguhkan di Surakarta adalah Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai
Guntur Sari. Makna yang dapat diambil dari kedua gending gamelan itu adalah ajaran
menganai Syahadat Tauhid, yakin pada adanya Allah SWT, dilambangkan dalam gendhing
‘Rembu’, berasal dari kata Robbuna yang artinya Allah Tuhanku. Ajaran lain yang
disampaikan adalah Syahadat Rosul yang dikumandangkan dengan Gendhing ‘Rangkung’,
berasal dari kata Roukhun yang artinya Jiwa Besar atau Jiwa Yang Agung. Jiwa besar dan
agung itu adalah teladan dari Nabi Muhammad saw yang berdakwah dengan sabar, tekun, ulet,
pemaaf, dan sangat mencintai umatnya.


5. Kerobok Maulid di Kutai dan Pawai Obor di Manado
Di Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya kawasan Kedaton Kutai Kartanegara juga
dieselenggarakan tradisi yang dinamakan dengan Kerobok Maulid. Istilah Kerobok berasal dari
Bahasa Kutai yang artinya berkerubun atau berkerumun oleh orang banyak. Tradisi ini
dilaksanakan dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 Rabiul
Awwal. Tradisi Kerobok Maulid dipusatkan di halaman Masjid Jami' Hasanuddin, Tenggarong.
Kegiatan Kerobok Maulid ini diawali dengan pembacaan Barzanji di Masjid Jami
Hasanudin Tenggarong. Kemudian dari Keraton Sultan Kutai, puluhan prajurit Kesultanan akan
keluar dengan membawa usung-usungan yang berisi makanan kue tradisional, puluhan bakul
Sinto atau bunga/kembang rampai dan Astagona.
Usung-usungan ini kemudian dikelilingkan antara Keraton dan Kedaton Sultan dan
berakhir di Masjid Hasanuddin. Kedatangan prajurit keraton dengan membawa Sinto, Astagona
dan kue-kue di Masjid Hasanudin ini akan disambut dengan pembacaan Asrakal yang kemudian
membagi-bagikannya kepada warga masyarakat yang ada di dalam Masjid.
Akhir dari upacara Kerobok ini ditandai dengan penyampaian hikmah maulid oleh seorang
ulama. Sementara itu bagi masyarakat penonton dan wisatawan yang berada di luar masjid pihak
Pemkab Kukar akan membagi-bagikan makanan berupa kue-kue secara gratis.
Lain halnya di Kutai, untuk memperingati Maulid nabi Muhammad SAW warga muslim di
Kota Manado, Sulawesi Utara, menggelar tradisi pawai obor. Obor yang dibawa berpawai oleh
ribuan warga membuat jalan-jalan di Kota Manado terang. Bagi warga muslim setempat pawai
obor sudah jadi tradisi dan dilaksanakan turun-temurun sebagai simbol penerangan. Lebih lanjur
simbol penerangan itu bermakna bahwa kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah membawa
ajaran yang menjadi cahaya penerang iman saat manusia hidup dalam kegelapan dalam
kemusyrikan.








6. Grebeg Besar di Demak
Tradisi Grebeg Besar merupakan upacara tradisional yang setiap tahun dilaksanakan di
Kabupaten Demak Jawa Tengah. Tradisi ini dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah bertepatan
dengan datangnya Hari raya Idul Adha atau Idul Kurban. Tradisi ini cukup menarik karena
Demak merupakan pusat perjuangan Walisongo dalam berdakwah.
Pada awalnya Grebeg Besar dilakukan tanggal 10 Dzulhijjah tahun 1428 Caka dan
dimaksudkan sekaligus untuk memperingati genap 40 hari peresmian penyempurnaan Masjid
Agung Demak. Mesjid ini didirikan oleh Walisongo pada tahun 1399 Caka, bertepatan 1477
Masehi. Tahun berdirinya masjid ini tertulis pada bagian Candrasengkala ”Lawang Trus
Gunaning Janmo”.
Pada tahun 1428 Caka tersebut Sunan Giri meresmikan penyempurnaan masjid Demak.
Tanpa diduga pengunjung yang hadir sangat banyak. Kkesempatan ini kemudian digunakan
para Wali untuk melakukan dakwah Islam. Jadi, tujuan semula Grebeg Besar adalah untuk
merayakan Hari Raya Kurban dan memperingati peresmian Masjid Demak.
Namun pada tahun 1970-an, tradisi Grebeg Besar ini hampir-hampir dilupakan
masyarakat, terbukti dengan semakin berkurangnya jumlah pengunjung yang datang. Ketika itu
Bupati Demak Drs. Winarno bersama Kepala Dinas Pariwisata Jateng Drs. Sardjono, memiliki
gagasan mengembangkan pariwisata untuk menambah daya tarik pengunjung. Kemudian
dibuatlah atraksi upacara penyerahan minyak jamas dari Keraton Surakarta kepada Bupati
Demak, diiringi prajurit ”Patangpuluhan” yang jumlahnya empat puluh orang.
Pakaian prajurit ini dirancang oleh Dinas Pariwisata Jateng, sedangkan untuk aba-aba
baris-berbaris dilatih secara khusus oleh anak wayang kelompok ”Ngesti Pandowo”. Juga masih
ditambah lagi dengan atraksi pemotongan ”Tumpeng Sanga” yang melambangkan Wali Sanga
karena jumlah tumpengnya sembilan buah. Di luar dugaan, dengan ditambahkannya even ini,
pengunjung Grebeg Besar semakin banyak.
Upacara dimulai setelah melakukan salat Idul Adha di Masjid Agung Demak kemudian
diteruskan dengan prosesi iring-iringan prajurit yang mengawal minyak jamas, minyak untuk
memandikan pusaka, yang didatangkan dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Iring-iringan ini
dimulai dari Pendopo Kabupaten Demak sampai ke Makam Kadilangu. Begitu datang, sudah
siap para kerabat dan keturunan yang kemudian melakukan penjamasan peninggalan pusaka
Sunan Kalijaga berupa Kutang Ontokusumo, Keris Kyai Crubuk, dan Kyai Sengkelat.



7. Tradisi Rabu Kasan di Bangka
Tradisi Rebo Kasan dilaksanakan di Kabupaten Bangka setiap tahun, tepatnya pada hari rabu
terakhir bulan Safar. Hal ini sesuai dengan namanya, yakni Rabu Kasan berasal dari kara Rabu
Pungkasan (terakhir).
Upacara Rabu Kasan sebenarnya tidak hanya dilakukan di Bangka saja, namun di daerah lain
seperti di Bogor jawa Barat dan Gresik Jawa Timur. Pada dasrnya maksud dari tradisi ini sama,
yaitu untuk memohon kepada Allah SWT agar dijauhkan dari bala’ (musibah dan bencana).
Di Kabupaten Bangka, tradisi ini dipusatkan di desa Air Anyer Kecamatan
Merawang. Sehari sebelum upacara Rabu Kasan di Batam diadakan, semua penduduk telah
menyiapkan segala keperluan upacara tersebut seperti ketupat tolak balak, air wafak dan makanan
untuk dimakan bersama pada hari Rabu esok hari.
Tepat pada hari Rabu Kasan, kira-kira pukul 07.00 WIB semua penduduk yang akan
mengikuti upacara telah hadir ke tempat upacara dengan membawa sedulang makanan, ketupat
tolak bala sebanyak jumlah keluarga masing-masing. Setelah berkumpul semua sesuai dengan
jadwal yang telah ditentukan baru acara segera dimulai.
Pertama berdirilah seorang di depan pintu masjid dan menghadap keluar lalu
mengumandangkan adzan.
Lalu disusul dengan pembacaan do’a bersama-sama. Selesai berdo’a semua yang hadir
menarik/melepaskan anyaman ketupat tolak balak yang terlah tersedia tadi, satu persatu menurut
jumlah yang dibawa sambil menyebut nama keluarganya masing-masing.
Setelah selesai acara melepaskan anyaman ketupat tolak balak tersebut baru mereka makan.
Setelah makan bersama, lalu masing-masing pergi mengambil air wafak yang telah disediakan
termasuk untuk semua keluarganya yang ada di rumah masing-masing.
Setelah selesai acara ini mereka pulang dan bersilahturahmi ke rumah tetangga/keluarganya.
Pada akhir-akhir ini banyak yang menggunakan kesempatan ini pada sore-sore harinya terutama
bagi muda mudi mencari hiburan di Pantai Air Anyer. Bahkan sekarang ini makin banyak
pengunjung yang datang dari luar kampung Air Anyer menyaksikan dan berlibur ke Pantai Air
Anyer pada setiap tahun diadakan acara Upacara Rabu Kasan ini.
                 Kesimpulan:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar